Abahsumadi's Blog

Just another WordPress.com weblog

Mamaleman

Hari ini, Sabtu 26 Ramadhan 1431 Hijriyah. Alhamdulillah, 25 hari lamanya orang-orang yang beriman telah menjalankan puasa dan ibadah-ibadah lainnya dengan lancar tanpa halangan yang berarti.

Ada tradisi unik di tempat saya, Pondok Ranggon setiap menginjak malam ke-25 puasa yaitu “mamaleman”. Apakah mamaleman itu?

Selesai menjalankan Shalat Taraweh kami berkumpul di Masjid terdekat atau di rumah seorang amil. Tidak hanya sekedar ngumpul tapi diisi dengan acara sedekahan/tahlilan. Uniknya acara ini ada pada hidangannya yaitu kue-kue tradisional seperti: Paisan, kue unti, abug, lepet, putu dan aduk cau. Agak asing, ya nama-nama kue itu di telinga kita sekarang.

Ketika memasuki hari ke-24 Puasa ibu-ibu dan anak-anak perempuan mulai sibuk menumbuk beras atau beras ketan sejak pagi hari. Beras yang dipakai pun beras asli dari hasil panenan sendiri seperti beras cere atau ketan gonjing. Ada pun tepung-tepung beras yang sudah jadi adalah sebagai bahan dasar dari kue-kue yang akan dibuat untuk acara memaleman. Sungguh sangat terasa sekali suasana gotong royong dan kekerabatan di seluruh isi kampung. Proses pembuatan kue mamaleman sangat sederhana, tanpa digoreng atau dipanggang, semua dibuat secara dikukus dan tanpa penambahan bahan tambahan kimia untuk pengemulsi atau pengembang. Benar-benar sehat! Ada pula yang sudah mulai membuat dodol untuk lebaran. Dodol Pondok Ranggon yang lezat.

Setelah semua siap, dibawalah kue yang sudah jadi ke mushalla, masjid atau rumah amil yang ditaruh di atas nampan-nampan atau piring. Dan dimulailah acara setelah Shalat Tarawih.

Tapi itu dulu, kenangan waktu saya masih kecil. Sekarang rasanya sudah jarang atau mungkin sudah tidak ada lagi acara mamaleman, saya tidak tahu. Semalam selesai Shalat Tarawih saya ke luar rumah menuju rumah paman/mamang sambil menoleh ke kiri-kanan jalan kalau-kalau masih ada acara mamaleman. Sekilas saya tak lihat ada tanda – tanda acara. Atau mungkin saya hanya tidak melihat saja karena saya harus segera pulang lagi ke rumah untuk siap-siap berangkat kerja, kena shift III.

4 September 2010 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. sayang ya bah kalau tradisinya sampai hilang…

    Komentar oleh AGUNG | 8 September 2010 | Balas

    • Ya, Mas Agung. Dunia tampaknya sudah berubah. Perlahan tapi pasti kebiasaan-kebiasaan yang mencerminkan kegotongroyongan khas bangsa kita mulai luntur …. Anak-anak kita nanti cuma tahu lewat pelajaran Kesjak di sekolah dan mungkin sejarah akan mencatat bahwa negara ini dulu-nya adalah negeri berpenduduk ramah dan berjiwa gotong-royong. Cuma dalam pelajaran sejarah ….

      Komentar oleh abahsumadi | 18 September 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: